Jiwa yang tenang dalam islam

by

Sesungguhnya bahwa hidup ini adalah Fana/tidak kekal, untuk itu kesadaran akan datangnya kematian harus terus tertanam dalam jiwa kita. “Kullu Nafsin Dzaaiqotul maut” tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian. Kematian adalah suatu keniscayaan, kepastian. Kematian adalah terminal menuju kehidupan kekal abadi. Benar apa yang disabdakan Uswah hasanah kita Muhammad Rosululloh SAW, dengan mengingat kematian dapat membersihkan berbagai karat hati.

Tentunya bagi orang yang benar dalam menyikapi kedatangannya, yaitu dengan melakukan persiapan-persiapan matang dan terencana, dengan terus dan terus menjalankan kefardhuan-kefardhuan yang telah ditetapkan Alloh Jalla wa ‘ala dan menghidupkan Sunnah Rosululloh SAW. kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik dengan Al-Qur’an.

Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun sangat tidak siap. Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja meraih cita-cita hidup bersama Al-Qur’an.

Ingin tambah sukses ?? Ayo gabung peluang usaha warnet, balik modal dalam satu tahun, garansi modal kembali !!!

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: